Contoh Korelasi dan Regresi dengan SPSS

PENGARUH KOMUNIKASI DALAM ORGANSIASI

TERHADAP SEMANGAT KERJA KARYAWAN

(Studi pada Karyawan UD. Adib Food Supplies Jombang)

 

 

A.   Hubungan Komunikasi dengan Semangat Kerja

Setiap organisasi apapun bentuknya senantiasa akan berusaha untuk mencapai tujuannya dengan efektif dan efisien. Untuk mencapai tujuan tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan adalah dengan mempertahankan dan meningkatkan semangat kerja karyawan, mengingat semangat kerja merupakan suatu hal penting bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Menurut Kartono (2002 : 62) bahwa salah satu cara untuk mempertinggi moralitas dan semangat kerja buruh, pegawai dan anggota ialah dengan “memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbicara dan mengemukakan keluhannya melalui interviu “non-direktif”. Dari pendapat tersebut menunjukkan bahwa salah satu cara meningkatkan semangat kerja karyawan adalah dengan melakukan komunikasi, dimana komunikasi yang dimaksudkan adalah dengan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengungkapkan keluhan-keluhannya.

Selain itu menurut Hanney dalam Effendy (2001 :116) dikatakan bahwa “komunikasi bagi sebuah organisasi adalah sine qua non”. Artinya bahwa komunikasi yang harmonis dalam sebuah organisasi yang ingin mencapai tujuannya merupakan sebuah keharusan. Interaksi yang harmonis diantara para karyawan suatu organisasi, baik dalam hubungannya secara timbal balik maupun secara horizontal diantara para karyawan secara timbal balik pula, disebabkan oleh komunikasi. Dengan adanya interaksi yang harmonis tersebut akan menciptakan suasana santai dan menyenangkan dalam lingkungan kerja. Suasana kerja yang santai dan menyenangkan ini menurut Nitisemito (1996 : 160) merupakan “salah satu faktor yang menyebabkan karyawan lebih bersemangat dalam bekerja”.

 

B.  Model Konsep dan Hipotesis

  1. 1.    Konsep

            Dari tinjauan teoritis mengenai pengaruh komunikasi dalam organisasi terhadap semangat kerja karyawan, maka dapat dirumuskan model konsep sebagai dasar pembentukan model hipotesis, seperti terlihat pada gambar 1.

 

Komunikasi dalam Organisasi

Semangat Kerja

 

 

 

 

Gambar 1. Model Konsep

 

  1. 2.    Hipotesis

            Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap suatu persoalan yang tujuannya adalah sebagai tuntunan sementara dalam penelitian untuk mencari jawaban sebenarnya, sebelum sampai kepada teori yang terbukti kebenarannya. Arikunto (1996 : 68) mengemukakan bahwa hipotesis adalah “suatu teori sementara, yang kebenarannya masih perlu diuji (dibawah kebenaran)”.

            Maka dalam penelitian ini dapat disusun model hipotesis seperti terlihat pada gambar 2.

 

 

Semangat

Kerja Karyawan

(Y)

Komunikasi Vertikal (X1)

Komunikasi Horizontal (X2)

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.  Model Hipotesis

Berdasarkan model hipotesis di atas dan tentang pengaruh komunikasi dalam organisasi terhadap semangat kerja karyawan, maka dapat dijabarkan dalam hipotesis berdasarkan kajian teoritis yang telah dilakukan sebagai berikut:

1.   Korelasi

Terdapat hubungan yang signifikan secara bersama-sama variabel-variabel komunikasi yang terdiri dari komunikasi vertikal (X1) dan komunikasi horizontal (X2) terhadap semangat kerja karyawan (Y) UD. Adib Food Supplies Jombang.

2.   Regresi

  1. Terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama variabel-variabel komunikasi yang terdiri dari komunikasi vertikal (X1) dan komunikasi horizontal (X2) terhadap semangat kerja karyawan (Y) UD. Adib Food Supplies Jombang.
  2. Terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial variabel-variabel komunikasi  yang terdiri dari komunikasi vertikal (X1) dan komunikasi horizontal (X2) terhadap semangat kerja karyawan (Y) UD. Adib Food Supplies Jombang.
    1. Diduga variable komunikasi horizontal (X2) adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap semangat kerja karyawan (Y) UD. Adib Food Supplies Jombang.

 

 

C. Metode Penelitian

Atas dasar pertimbangan cara dan taraf pembahasan masalah, Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian eksplanatori karena seperti halnya pada tujuan penelitian yang telah disampaikan diatas, penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh antar variabel. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah :

  1. 1.     Variabel
  2. Komunikasi vertikal (X1) yaitu  Komunikasi vertikal adalah aliran komunikasi dari atasan ke bawahan dan sebaliknya.

Indikatornya:

  1. Komunikasi dari atasan ke bawahan
  2. Komunikasi dari bawahan ke atasan
  3. Komunikasi horizontal (X2) merupakan komunikasi antar bagian yang setingkat dalam organisasi.

Indikatornya:

  1. Komunikasi antar karyawan
  2. Komunikasi antar bagian
  3. Semangat kerja karyawan (Y) merupakan kondisi perilaku individu yang menimbulkan kesenangan yang mendalam pada dirinya untuk bekerja lebih giat dan lebih baik sehingga tujuan yang telah ditetapkan perusahaan dapat tercapai.

Indikatornya:

1).     Tingkat absensi

2).     Kerjasama

3).     Kesetiaan

4).     Disiplin kerja

5).     Kegembiraan

Dengan mengetahui  variabel dan indikator di atas, maka dapat dibuat tabel konsep, variabel, indikator dan item seperti nampak pada Tabel 1. 

 

  1. 2.     Skala Pengukuran

Untuk memperoleh data kuantitatif, pengukuran data dilakukan dengan menggunakan metode pengukuran dengan Skala Likert dengan menghadapkan responden dengan sebuah pertanyaan dan kemudian diminta untuk memberikan jawaban “sangat setuju”, “setuju”, ragu-ragu”, “tidak setuju”, sangat tidak setuju”. Jawaban-jawaban ini diberi skor 1 sampai 5”. Untuk menghindari timbulnya kecenderungan menjawab ketengah (central tendency effect) maka menggunakan modifikasi Skala Likert dengan interval 4 alternatif jawaban.

Contoh alternatif jawaban yang akan digunakan dalam kuesioner ini :

  1. Sangat Setuju                                 mendapat skor 4
  2. Setuju                                             mendapat skor 3
  3. Kurang Setuju                                 mendapat skor 2
  4. Tidak Setuju                                    mendapat skor 1.                     

Contoh alternatif jawaban tersebut di atas akan bervariasi sesuai dengan pertanyaan dan akan dipergunakan baik untuk variabel bebas (X) maupun untuk variabel terikat (Y).

 

 

Tabel 1. Konsep, Variabel, Indikator dan Item

No

Konsep

Variabel

Indikator

Item

1

Komunikasi dalam Organisasi

Komunikasi Vertikal

(X1)

1.  Komunikasi dari atasan ke bawahan

 

  1. Pemberian petunjuk dari atasan mengenai pelaksanaan tugas
  2. Instruksi dari atasan
  3. Pemberian teguran dari atasan

 

2.  Komunikasi dari bawahan ke atasan

 

  1. Penyampaian laporan kepada atasan
  2. Penyampaian keluhan kepada atasan
  3. Pemberian gagasan kepada atasan

 

Komunikasi Horizontal (X2)

 

1.  Komunikasi antar karyawan

 

 

  1. Komunikasi dengan teman sekerja
  2. Saling memberi informasi dengan teman sekerja
  3. Pemecahan masalah antar divisi

 

2. Komunikasi antar bagian

 

  1. Saling memberi informasi antar bagian
  2. Koordinasi antar bagian
  3. Pemecahan masalah antar bagian

 

2

 

Semangat Kerja

 

Semangat Kerja Karyawan

(Y)

 

1. Tingkat absensi

 

 

  1. Tingkat absensi karyawan karena sakit
  2. Tingkat absensi karyawan karena izin
  3. Tingkat absensi karyawan tanpa izin

 

2. Kesetiaan

 

 

 

  1. Kesetiaan untuk bekerja tanpa didasari imbalan
  2. Kesetiaan pada organisasi dalam keadaan apapun

 

3. Kerjasama

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kesediaan karyawan untuk saling mengingatkan tugas
  2. Kesediaan karyawan untuk memberikan bantuan rekan kerja yang memerlukan bantuan
  3. Kesediaan karyawan untuk memberikan bantuan kepada rekan kerja tanpa diminta

 

4. Disiplin kerja

 

  1. Kepatuhan pada tatib organisasi
  2. Disiplin pada jam kerja
  3. Disiplin dalam berpakaian
  4. Bekerja dengan mengikuti cara-cara yang ditentukan

 

5. Kegembiraan

 

  1. Bekerja tanpa perasaan tertekan
  2. Gembira dengan tugas yang diberikan

 

Populasi dalam penelitian ini sebanyak 42 orang yang merupakan jumlah seluruh karyawan UD. Adib Food Supplies Jombang, yang tersebar pada 5 divisi, yaitu :

  1. Divisi Daging, terdiri dari 14 orang karyawan
  2. Divisi Ayam, terdiri dari 8 orang karyawan
  3. Divisi Susu, terdiri dari 9 orang karyawan
  4. Divisi RSU, terdiri dari 5 orang karyawan
  5. Divisi Umum, terdiri dari 6 orang karyawan

Mengenai besarnya sampel yang diambil untuk mendapatkan data yang representatif, Arikunto (1996: 107) mengatakan “apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil 10-15% atau 20-25%”.

Berdasarkan pendapat di atas, karena populasi kurang dari 100, maka sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini sebanyak 42 orang (semua populasi penelitian). Dengan demikian, maka penelitian ini adalah penelitian populasi sebagaimana yang disampaikan oleh Arikunto (1996: 115) “apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi”.

Data dalam peneltian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari obyek yang di teliti, dalam hal ini data diperoleh dari subyek yang bersangkutan dalam penelitian, subyek penelitian tersebut adalah karyawan UD. Adib Food Supplies Jombang. Adapun data primernya adalah mengenai persepsi komunikasi dalam organisasi dan semangat kerja. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain atau diperoleh tidak langsung dari obyek penelitian yang merupakan pendukung bagi penelitian yang dilakukan. Dalam hal ini data sekunder berasal dari bahan-bahan tertulis (dokumen) yang berada di lapangan dan mempunyai hubungan dengan objek penelitian.

            Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dnegan kuesioner, observasi, interview dan dokumenter. Data yang telah dikumpulkan tidak ada artinya bila tidak dianalisis. Analisis data berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis deskriptif dan regresi linier berganda.

 

  1. 1.     Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan dalam mendeskripsikan keadaan variable itu sendiri. Analisis ini dilakukan dengan cara menjelaskan keadaan variabel di atas sehingga dapat diketahui keadaan yang sebenarnya dari masing-masing variable tersebut.

 

  1. 2.     Validitas dan Reliabilitas data

Tes analisis dilakukan dengan menghitung tingkat korelasi pertanyaan-pertanyaan yang mengukur aspek yang sama. Berdasarkan perhitungan tersebut akan diketahui tingkat konsistensi internal tiap-tiap pertanyaan selanjutnya. 

 

  1. Validitas

Menurut Ancok dalam Singarimbun dan Efendi (1995: 98) mengatakan bahwa: “Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur untuk mengukur apa yang diukur”. Untuk menguji validitas ini digunakan metode statistik yaitu dengan teknis korelasi sederhana (product moment). Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan indeks korelasi product moment  Pearson dengan level signifikansi 5% dengan nilai kritisnya, dimana r dapat digunakan rumus:

 

Keterangan:

n               : banyaknya sampel

X              : skor item X

Y              : skor item Y

 

Bila rhitung > rtabelmaka dinyatakan valid dan sebaliknya dinyatakan tidak valid.

  1. Reliabilitas

Menurut Singarimbun dan Effendi (1995: 99) mengatakan bahwa: “Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauhmana alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan”. Perhitungan tingkat reliabilitas data dilakukan dengan maksud untuk mengetahui adanya konsistensi alat ukur dalam penggunaannya, yang dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas item-item digunakan alpha. Rumusnya sebagai berikut:

 

dimana:

r11            = reliabilitas instrumen

k              = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

σb2           = jumlah varians butir

σt2            = varians total

Menurut Malhotra (1996: 308) instrumen dapat dikatakan andal (reliable) bila memiliki koefisien keandalan reliabilitas (alpha) sebesar 0,6 atau lebih.

 

3.   Analisis Regresi Linier Berganda

Formula:

Y = b0 + b1X1 +b2X2 + e

 

Dimana:

Y               = Variabel terikat

X1              = Variabel bebas

b0                            = Konstanta

b1                            = Intercept/koefisien regresi

E               = Kesalahan pengganggu

 

  1. Uji F

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat, digunakan uji F. Sudjana (1992: 54) merumuskan sebagai berikut:

 

 

Dimana:

JKreg                 = jumlah kuadrat regresi

JKres                 = jumlah kuadrat residu

K                      = banyaknya variabel bebas

N                      = banyaknya subjek

 

Apabila nilai signifikansi F lebih kecil dari 5% atau Fhitung > Ftabel , maka dinyatakan signifikan yang berarti secara bersama-sama variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Dan sebaliknya jika nilai signifikansi F lebih kecil dari 5% atau Fhitung < Ftabel , maka dinyatakan signifikan yang berarti secara bersama-sama variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat.

  1. Uji t

Untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel bebas terhadap variabel terima, digunakan uji t. Sudjana (1992: 69) merumuskan sebagai berikut:

 

Dimana:

b1         : koefisien regresi

Sb1       : standard error koefisien regresi

 

Apabila nilai signifikansi t lebih kecil dari 5% atau thitung > ttabel , maka dinyatakan signifikan yang berarti secara parsial variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Dan sebaliknya jika nilai signifikansi F lebih kecil dari 5% atau thitung < ttabel , maka dinyatakan signifikan yang berarti secara parsial variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel terikat.

  1. Variabel yang dominan

Untuk mengetahui variabel bebas mana yang paling dominan, diketahui dari koefisien determinasi hasil regresi sederhana antara variabel bebas terhadap variabel terikat atau hasil kuadrat korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel yang memiliki kuadrat korelasi tertinggi adalah variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap variabel terikat.

Dari semua langkah analisis data di atas, penulis menggunakan bantuan program SPSS for windows versi 10.0.

 

Sebelum kita melakukan pengujian (uji korelasi maupun regresi) maka data yang kita dapatkan harus terlebih dahulu diuji dengan uji validitas (tingkat kepercayaan terhadap data) dan uji reliabilitas (tingkat kehandalan data) untuk mendapatkan data yang relevan.

Langkah :

a.   Langkah uji validitas sama denganuji korelasi dengan menggunakan metode statistik yaitu dengan teknis korelasi sederhana (product moment). Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan indeks korelasi product moment  Pearson dengan level signifikansi 5% dengan nilai kritisnya. Angka kritis validitas adalah 0,30. jika :

  1. 1.     Nilai r hitung > 0,30, atau
  2. Bila rhitung > rtabel, atau
  3. Signifikansi rhitung  < 0,05, maka dinyatakan valid dan sebaliknya dinyatakan tidak valid.

 

b.   Langkah uji reliabilitas adalah sebagai berikut :

  • Buka file data komunikasi
  • Dari menu utama SPSS, pilih menu Scale kemudian pilih submenu Reliability Analysis
  • Tampak di layar tampilan seperti gambar 1.

 

Pengisian :

  • Items. Isilah item yang ada pada setiap variabel (X1.1 – X1.6)
  • Models. Alpha
  • Klik tombol statistik hingga tampak dilayar sebagai berikut :

 

 

  • Pada bagian inter-item (terletak di kanan atas) dan untuk keseragaman pilih correlations.
  • Abaikan pilihan yang lain dan tekan tombol continue untuk kembali ke kotak dialog sebelumnya.
  • Kemudian tekan OK untuk proses data

 

Output :

 

Reliability

****Method 2 (covariance matrix) will be used for this analysis***

R E L I A B I L I T Y   A N A L Y S I S – S C A L E   (A L P H A)

 

                   Correlation Matrix

        X1.1     X1.2     X1.3     X1.4     X1.5      X1.6

 

X1.1    1,0000

X1.2    ,3064    1,0000

X1.3    ,3414    ,2350    1,0000

X1.4    ,1281    ,2338    ,3549    1,0000

X1.5    ,1358    ,3070    ,0402    ,0892    1,0000

X1.6    ,0581    ,1919    ,2449    ,5269    ,3693     1,0000

 

        N of Cases =        42,0

 

Reliability Coefficients     6 items

Alpha =   ,6455           Standardized item alpha =   ,6515

Output uji reliabilitas di atas menunjukkan hubungan antar item yang ada. Hal ini karena dalam uji reliabilitas yang diuji adalah hubungan antar item dalam satu variabel. Output pada Alpha (Alpha Cronbach) menunjukkan angka 0,6455 yang menunjukkan bahwa data tersebut (untuk komunikasi vertikal) adalah reliabel (handal).

 

 

 

KORELASI DAN REGRESI

Analisis korelasi dan analisis regresi termasuk dalam analisis multivariate (analisis yang berhubungan dengan metode-metode statistik yang secara bersama-sama (simultan) melakukan analisis terhadap lebih dari dua variabel pada setiap objek atau orang), karena menyangkut hubungan antar dua variabel atau lebih, dimana variabel-variabel tersebut dianalisis bersama-sama. Seperti komunikasi dalam organisasi (variabel 1) mempengaruhi semangat kerja karyawan (variabel 2), atau seberapa besar pengaruh komunikasi dalam organisasi (variabel 1) dan kepemimpinan (variabel 2) mempengaruhi semangat kerja seseorang (variabel 3).

Analisis korelasi mempelajari apakah ada hubungan antara dua variabel atau lebih, sedang analisis regresi memprediksi seberapa jauh hubungan tersebut. Sehingga jika dengan analisis korelasi menyatakan adanya hubungan yang positif dan kuat antara komunikasi dalam organisasi dengan semangat kerja karyawan, maka analisis regresi akan memperkirakan jika komunikasi dalam organisasi ditingkatkan, berapa tingkat semangat kerja yang dapat dicapai.

 

Korelasi

Data yang dipergunakan dapat data kualitatif maupun kuantitatif, yang masing-masing mempunyai ukuran korelasi sendiri-sendiri.

Kasus : menghitung korelasi antara komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal dengan semangat kerja karyawan. Signifikansi yang dipergunakan adalah 95% (kepercayaan peneliti terhadap kebenaran penelitiannya adalah 95) sehingga tingkat kesalahan yang munkin terjadi adalah 5% (0,05).

Karena data yang ada adalah ordinal, maka korelasi yang dipergunakan adalah korelasi Spearman, dimana syaratnya adalah isi data adalah berjenjang (seperti sangat baik, baik, tidak baik dan sebagainya).

Langkah :

  1. Buka file data komunikasi
  2. Dari menu utama SPSS, pilih menu Analyse kemudian pilih submenu Correlate, dan pilih Bivariate…
  3. Tampak di layar tampilan seperti gambar 1.

 

 

 

 

Pengisian :

  • Variable. Pilih komunikasi vertikal, komunikasi horizontal dan semangat kerja karyawan
  • Correlation coefficients. Pilih Spearman dan Kendall’s tau_b

Catatan : jangan lupa untuk menonaktifkan pilihan Pearson !

  • Test of Significance, pilih Two tailed untuk uji dua sisi
  • Flat significance correlations. Aktifkan pilihan ini
  • Abaikan pilihan yang lain
  • Kemudian tekan OK untuk proses data

 

Nonparametric Correlations

Correlations

 

 

 

Komunikasi Vertikal

Komunikasi Horizontal

Semangat Kerja Karyawan

Spearman’s rho

Komunikasi Vertikal

 

Correlation Coefficient

1,000

,693**

,678**

Sig. (2-tailed)

,

,000

,000

N

42

42

42

Komunikasi Horizontal

Correlation Coefficient

,693**

1,000

,847**

Sig. (2-tailed)

,000

,

,000

N

42

42

42

Semangat Kerja Karyawan

Correlation Coefficient

,678**

,847**

1,000

Sig. (2-tailed)

,000

,000

,

N

42

42

42

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

**  Correlation is significant at the .01 level (2-tailed).

 

Analisis :

Perhatikan judul Nonparametric Correlations yang berarti korelasi untuk nonparametric (data jenis kualitatif). Walaupun demikian, penafsiran output maupun uji signifikansi persis sama dengan pembahasan output korelasi Pearson.

  1. Arti angka korelasi
  • Korelasi antara komunikasi vertikal dengan semangat kerja karyawan positif, atau semakin tinggi intensitas komunikasi vertikal yang dilakukan, maka  semangat kerja seorang karyawan akan semakin meningkat. Demikian pula sebaliknya, semakin tidak bersemangat karyawan tersebut. Angka korelasi (0,678) yang lebih tinggi dari 0,5 menunjukkan kuatnya hubungan kedua variabel tersebut.
  • Korelasi antara komunikasi horizontal dengan semangat kerja karyawan positif, atau semakin tinggi intensitas komunikasi horizontal yang dilakukan, maka  semangat kerja seorang karyawan akan semakin meningkat. Demikian pula sebaliknya, semakin tidak bersemangat karyawan tersebut. Angka korelasi (0,847) yang lebih tinggi dari 0,5 menunjukkan kuatnya hubungan kedua variabel tersebut.
  1. Signifikansi hasil korelasi
  • Korelasi antara komunikasi vertikal dengan semangat kerja karyawan adalah signifikan (probabilitas 0,000 yang berada di bawah 0,05), yang berarti bahwa adanya hubungan yang benar-benar signifikan antara komunikasi vertikal dengan semangat kerja karyawan.
  • Korelasi antara komunikasi horizontal dengan semangat kerja karyawan adalah signifikan (probabilitas 0,000 yang berada di bawah 0,05), yang berarti bahwa adanya hubungan yang benar-benar signifikan antara komunikasi vertikal dengan semangat kerja karyawan.

 

Regresi

Tujuan dari analisis regresi adalah memprediksi besar variabel tergantung dengan menggunakan data variabel bebas yang sudah diketahui besarnya. Pada dasarnya, tahapan penyusunan model regresi berganda meliputi :

  • Menentukan mana variabel bebas (independent) dan mana variabel tergantung (dependent).
  • Menentukan metode pembuatan model regresi (enter, stepwise, forward, backward).
  • Melihat ada tidaknya data yang outlier (ekstrim).
  • Menguji asumsi-asumsi pada regresi berganda, seperti normalitas, linieritas, heteroskedastisitas dan lainnya).
  • Menguji signifikansi model (uji t, uji F dan sebagainya).
  • Interpretasi model regresi berganda.

 

Kasus : menghitung pengaruh komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal terhadap semangat kerja karyawan. Signifikansi yang dipergunakan adalah 95% (kepercayaan peneliti terhadap kebenaran penelitiannya adalah 95) sehingga tingkat kesalahan yang mungkin terjadi adalah 5% (0,05).

Langkah :

  1. Buka file data komunikasi
  2. Dari menu utama SPSS, pilih menu Analyse kemudian pilih submenu regression, dan pilih kinear…
  3. Tampak di layar tampilan seperti gambar berikut :

 

 

Pengisian :

  • Dependent atau variabel tergantung. Pilih variabel semangat kerja karyawan (Y).
  • Independent(s) atau variabel bebas, pilih variabel komunikasi vertikal (X1) dan komunikasi horizontal (X2).
  • Methode, pilih enter
  • Abaikan bagian yang lain.
  • Tekan OK untuk proses data.

Output :

Regression

 

 

 

 

Analisis :

  1. Model Summary
  • Angka R sebesar 0,853 menunjukkan bahwa korelasi/hubungan antara komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal dengan semangat kerja karyawan adalah kuat.

Catatan : definisi kuat karena angka di atas 0,05. Namun demikian bisa saja untuk kasus lain batasan angka akan berbeda.

  • Angka R square atau koefisien determinasi adalah 0,728 (berasal dari 0,853  x  0,853 ). Namun untuk jumlah variabel independent lebih dari dua, lebih baik digunakan Adjusted R Square (0,714) selalu lebih kecil dari R Square). Hal ini berarti 71,4% variasi semangat kerja karyawan bisa dijelaskan oleh variasi kedua variabel independent. Sedang sisanya (100% – 71,4% = 28,6%) dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain.
  • Standard Error of Estimate (SEE) adalah 2,7786 atau kesalahan standar dari prediksi semangat kerja (model regresi) adalah 2,7786. Semakin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel bebas.
  1. Anova (Hipotesis 1)
  • Dari uji ANOVA atau F test, didapat F hitung adalah 52,232 dengan tingkat signifikansi 0,000. karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksi semangat kerja karyawan. Atau dapat dikatakan, komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal berpengaruh secara bersama-sama terhadap semangat kerja karyawan.
  1. Koefisien Regresi
  • Persamaan regresi :

Y = b0 + b1X1 +b2X2 + e

Semangat kerja karyawan = 3,550 + 0,835 komunikasi vertikal + 1,306 komunikasi horizontal.

  • Konstanta sebesar 3,550 menyatakan bahwa jika tidak ada komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal, semangat kerja karyawan adalah 3,55%.
  • Koefisien regresi 0,835 menyatakan bahwa setiap penambahan (karena tanda +) 1 satuan komunikasi vertikal akan meningkatkan semangat kerja karyawan sebesar 0,835.
  • Koefisien regresi 1,306 menyatakan bahwa setiap penambahan (karena tanda +) 1 satuan komunikasi horizontal akan meningkatkan semangat kerja karyawan sebesar 1,306.
  • Uji t untuk menguji signifikansi konstanta dan setiap variabel bebas (Hipotesis 2).

H0 = koefisien regresi tidak signifikan

H1 = koefisien regresi signifikan

 

Pengambilan keputusan :

  1. Berdasarkan probabilitas :

-          Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima

-          Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak

  1. Berdasarkan perbandingan t hitung dan t tabel

-          Jika t hitung > t tabel maka maka H0 diterima

-          Jika t hitung < t tabel maka maka H0 ditolak

 

Keputusan :

Terlihat bahwa pada kolom Sig/significance :

  • Variabel komunikasi vertikal mempunyai angka signifikansi 0,023 < 0,05 dan variabel komunikasi horizontal mempunyai angka signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga keputusannya adalah menolak H0. Artinya bahwa kedua variabel bebas berpengaruh signifikan (nyata) terhadap semangat kerja karyawan dengan signifikansi 5% (0,05).
  • Berdasarkan t tabel dengan signifikansi 0,05 dan df 39 diperoleh angka t tabel sebesar 1,69. Nilai t hitung (t) pada tabel coefficients untuk komunikasi vertikal sebesar 2,372 dan komunikasi horizontal sebesar 5,156 menunjukkan lebih besar dari t tabel sehingga menolak H0, artinya bahwa kedua variabel bebas berpengaruh signifikan (nyata) terhadap semangat kerja karyawan dengan signifikansi 5% (0,05).

 

Pada hipotesis 3 berbunyi diduga variable komunikasi horizontal (X2) adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap semangat kerja karyawan (Y) UD. Adib Food Supplies Jombang. Untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan berpengaruh terhadap Semangat Kerja Karyawan (Y), adalah dengan mengetahui terlebih dahulu kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap variabel Semangat Kerja Karyawan (Y). Kontribusi diketahui dengan kooefisien determinasi dari hasil regresi sederhana masing-masing variabel bebas terhadap Semangat Kerja Karyawan (Y) atau juga diketahui dari pengkuadratan hasil korelasi variabel bebas terhadap variabel terikat (r2). Kontribusi masing-masing variabel bebas disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel . … Kontribusi Variabel Bebas terhadap Variabel Semangat Kerja Karyawan (Y)

Variabel

Koefisien Korelasi

r2

Kontribusi

 

X1 – Y

X2 – Y

 

0,355

0,637

 

0,1260

0,4058

 

12,60%

40,58%

Data pada tabel  di atas terlihat bahwa variabel Komunikasi Horizontal (X2) memiliki kontribusi yang paling tinggi yaitu sebesar 40,58% pengaruhnya terhadap Semangat Kerja Karyawan (Y). Sedangkan variabel Komunikasi Vertikal mempunyai pengaruh terhadap variabel Semangat Kerja Karyawan (Y) sebesar 12,60%. Dengan kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hipotesis ketiga yang mengatakan bahwa “diduga variabel komunikasi horizontal (X2) adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap semangat kerja karyawan (Y) UD. Adib Food Supplies Jombang” dapat diterima.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s